Di tengah jalanan era Showa dan terik matahari musim panas, keponakannya pulang ke pedesaan. Bertemu keponakannya untuk pertama kalinya setelah sekian lama, jantung sang paman berdebar kencang dan ia tak bisa menyembunyikan kegembiraannya. Ia menatap tubuh keponakannya dengan saksama dan tersenyum. Terpikat oleh tonjolan kecilnya yang masih membesar dan aroma manis asam yang keluar dari tubuhnya yang panas dan berkeringat, ia kehilangan akal sehat dan mulai membelai keponakannya tanpa henti, bermain dengannya seperti orang gila.