Aku bertemu kembali dengan mantan kekasihku di reuni kelas—kami putus sebelum sempat berhubungan intim karena kami terlalu muda. Cincin yang berkilauan di jarinya yang ramping sangat mempesona. "Kau menjadi begitu cantik," kataku. "Sekarang aku bisa mengatakan hal-hal seperti itu," jawabnya. Kami berada di kamar hotel, sedikit mabuk dengan sampanye di tangan. Hanya kami berdua, kini sudah dewasa. Saat aku menyentuhnya, menelusuri lekuk tubuhnya, matanya merindukanku. Didorong oleh aroma masa muda kami yang masih tersisa, kami saling melahap tubuh masing-masing. Tubuhnya putih, lembut, dan indah. Aku meraih pinggangnya yang ramping...