Lidah ayah mertuanya menelusuri titik yang sama yang disentuhnya sekali, tanpa henti, dua kali, tiga kali. Panasnya perlahan meresap jauh ke dalam tubuhnya, membuat lututnya sedikit gemetar. "Aku belum pernah merasakan lidah seperti itu sebelumnya..." gumamnya, bingung, dan ayah mertuanya tertawa geli. Ironisnya, air liur ayah mertuanya meredakan hari-hari kering dan tak berarti karena diabaikan oleh suaminya. Perlahan-lahan, tubuh dan pikirannya mulai merespons dengan patuh belaiannya yang berulang dan lengket. Jari-jarinya...